Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Saturday, November 8, 2014

Ergonomi

1. Pengertian Ergonomi


Ergonomi berasal dari bahasa Yunani yaitu ergo (kerja) dan nomos(hukum), dengan demikian ergonomi dapat diartikan sebagai disiplin ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan selain itu ergonomi dapat pula diartikan sebagai penerapan ilmu-ilmu teknik dan teknologi untuk mencapai penyesuaian satu sama lain secara optimal dari manusia terhadap pekerjaannya (Suma’mur, PK. 1996). Ergonomi adalah suatu upaya dalam bentuk ilmu, teknologi, dan seni untuk menyerasikan peralatan, mesin, pekarjaan, sistem, organisasi, dan lingkungan dengan kemampuan, keahlian dan keterbatasan manusia sehingga tercapai satu kondisi dan lingkungan yang sehat, aman, nyaman, efisien dan produktif melalui pemanfaatan fungsional tubuh manusia secara optimal dan maksimal (Maulana, A. 2000). Ergonomi mempunyai peranan bagi seseorang pada saat bekerja yaitu dapat memberikan kenyamanan bekerja sehingga menghasilkan kerja yang maksimal. Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah

Pengertian Ergonomi
  1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cidera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik maupun mental, mengupayakan promosi dan kepuasan kerja.
  2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna serta meningkatkan jaminan sosial baik selama kurun waktu usia produktif maupun setelah tidak produktif.
  3. Menciptakan keseimbangan antara berbagai aspek yaitu aspek teknis, ekonomis, antropologis, dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan sehingga tercipta kualitas kerja dan kualitas hidup yang tinggi. (Tarwaka, dkk. 2004).

     Tujuan ergonomi dapat tercapai maka perlu keserasian antara pekerja dan pekerjaannya, sehingga manusia pekerja dapat bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterbatasannya. Secara umum kemampuan dan keterbatasan manusia ditentukan oleh berbagai faktor yaitu umur, jenis kelamin, ras, anthropometri, status kesehatan, gizi, kesegaran jasmani, pendidikan, ketrampilan, budaya, tingkah laku, kebiasaan dan kemampuan beradaptasi (Manuaba, 1998).
Ilmu ergonomi dalam penerapannya mempunyai tujuan sebagai berikut:
  • Diperoleh rasa nyaman dalam bekerja
  • Menghindari kelelahan
  • Menghindari gerakan dan upaya yang tidak perlu
  • Tenaga atau upaya melaksanakan pekerjaan menjadi sekecil-kecilnya dengan hasil yang sebesar-besarnya


2. Beban Kerja


        Beban kerja merupakan banyaknya jenis pekerjaan yang harus diselesaikan oleh tenaga kesehatan secara professional dalam satu tahun di sarana pelayanan kesehatan. Beban yang dimaksud adalah fisik, mental dan sosial. Oleh karena itu, seorang tenaga kerja memiliki kemampuan tersendiri dalam hubungannya dengan beban kerja. Hal ini menjadi dasar dalam penempatan seorang tenaga kerja pada pekerjaan yang tepat. Derajat suatu penempatan meliputi kecocokan pengalaman, keterampilan maupun motivasi. Penetapan kebutuhan tenaga kerja diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 81/MenKes/SK/I/2004 tanggal 13 Januari 2004 tentang Pedoman Penyusunan SDM Kesehatan di tingkat propinsi, kabupaten/ kota serta rumah sakit.
        Menurut Redahl (1989), Adi Putra (1998) dan Manuaba (2000) dalam Tarwaka, dkk (2004) bahwa secara umum hubungan antara beban kerja dan kapasitas kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat komplek terbagi menjadi dua bagian besar yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal adalah beban kerja yang berasal dari luar tubuh pekerja yang termasuk didalamnya adalah tugas (task) itu sendiri, organisasi dan lingkungan kerja. Sedangkan faktor internal dari beban kerja adalah faktor yang berasal dari dalam tubuh itu sendiri sebagai akibat adanya reaksi dari beban kerja eksternal.


3. Produktivitas


     Manuaba (1992) menyatakan bahwa peningkatan produktivitas dapatdicapai dengan menekan sekecil-kecilnya segala macam biaya termasuk memanfaatkan sumber daya manusia yang sesuai dengan peraturan yang berlaku (do the right thing) dan meningkatkan keluaran (produktivitas) yang sebesar-besarnya. Pengertian lain dari produktivitas adalah konsep universal yang menciptakan lebih banyak barang dan jasa bagi kebutuhan manusia dengan menggunakan sumber daya yang serba terbatas Konsep umum dari produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran (output) dan masukan (input) per satuan waktu. Produktivitas dikatakan meningkat apabila:
  1. Jumlah produktivitas atau keluaran meningkat dengan jumlah masukan atau sumber daya yang sama.
  2. Jumlah produktivitas atau keluaran sama atau meningkat dengan jumlah masukan atau sumber daya yang relatif kecil.
  3. Jumlah produktivitas atau keluaran meningkat, jumlah diperoleh dengan penambahan masukan atau sumber daya yang relatif kecil.

Pengukuran produktivitas secara umum dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
  1. Produktivitas total adalah perbandingan antara total keluar (outputdengan total masukkan (input) per satuan waktu.
  2. Produktivitas parsial adalah perbandingan dari keluaran dengan satu jenis masukkan dengan per satuan waktu seperti upah kerja, kapital, bahan, energy dan beban kerja.

Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja:
a. Motivasi
b. Kedisiplinan
c. Etos kerja
d. Keterampilan
e. Pendidikan
(Tarwaka, dkk. 2004).


4. Waktu Kerja


       Waktu kerja dapat menentukan efisiensi dan produktivitas, dalam hal ini segi-segi penting tentang waktu kerja meliputi:
  1. Lamanya seseorang mampu bekerja dengan baik
  2. Hubungan antara waktu kerja dengan istirahat
  3. Waktu bekerja sehari menurut periode yang meliputi siang dan malam

      Lama seseorang bekerja sehari secara baik adalah 6 s.d 8 jam, sedangkan sisa waktu lainnya digunakan untuk kehidupan pribadi/ sosial/ masyarakat. Seseorang dalam seminggu dapat bekerja dengan baik selama 40 s.d 50 jam. Oleh karena itu, semakin panjang waktu kerja seseorang maka semakin besar terjadi hal yang tidak diinginkan misalnya kelelahan kerja yg menyebabkan kecelakaan kerja. Produktivitas akan mulai menurun apabila sesudah 4 jam bekerja, oleh sebab itu diperlukan waktu istirahat setengah jam sesudah 4 jam bekerja sehingga waktu kerja efektif seseorang dalam satu tahun adalah 47 minggu.
        Hal ini mengakibatkan perlu adanya penetapan waktu longgar dan waktu baku untuk keperluan personal needs dengan istirahat melepas lelah dan alasan-alasan lain diluar kemampuan seseorang. Waktu longgar yang dibutuhkan akan menginterupsi proses produksi bisa diklasifikasikan menjadi Personal, Fatigue maupun Delay Allowance.
  1. Personal allowance (kelonggaran waktu untuk kebutuhan personal/individu) Jumlah waktu longgar untuk kebutuhan individu dapat ditetapkan dengan cara melaksanakan aktivitas time study sehari kerja penuh atau dengan metode sampling kerja. Pada pekerjaan yang relatif ringan dimana pekerja mampu bekerja selama 8 jam per hari tanpa istirahat resmi yaitu sekitar 2 sampai 5 % atau 10 sampai 24 menit dapat dipergunakan untuk kebutuhan yang bersifat individu.
  2. Fatigue allowance (kelonggaran waktu untuk melepaskan kelelahan) Kelelahan fisik manusia bisa disebabkan oleh beberapa penyebab diantaranya kerja yang membutuhkan pikiran banyak dan kerja fisik. Paling umum dilakukan adalah memberikan satu kali periode istirahat pada pagi hari dan sekali pada saat siang hari, lama waktu dalam periode istirahat yang diberikan yaitu antara 5 sampai 15 menit.
  3. Delay allowance (kelonggaran waktu karena tertunda) Kelonggaran waktu dapat disebabkan karena keterlambatanketerlambatan oleh faktor-faktor yang sulit untuk dihindari khususnya keterlambatan yang terlalu besar/lama tidak dipertimbangkan sebagai dasar dalam menetapkan waktu baku.

       Personal allowance umumnya diaplikasikan sebagai prosentase tertentu dari waktu normal untuk mempermudah penghitungan, biasanya fatigue allowance juga dinyatakan sama dengan prosentase waktu normal begitu pula dengan delay allowance. Apabila ketiga jenis kelonggaran tersebut diaplikasikan secara bersamaan untuk seluruh elemen kerja maka dapat dipergunakan dalam menyederhanakan penghitungan yang harus dilakukan, sehingga dalam penetapan kelonggaran waktu dapat dialokasikan antara 10 sampai 20 % (Wignjosoebroto, S. 1995).

Ergonomi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Abdi Basariyadi

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.