Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Thursday, January 8, 2015

Fisiologi Alat Reproduksi Pria

Hormon Pada Pria


Testosteron

Dihasilkan oleh sel interstisial yg terletak diantara tubulus seminiferus. Sel ini berjumlah sedikit pada bayi dan anak,tetapi banyak pada pria dewasa. Setelah pubertas, sel interstisial banyak menghasilkan hormone testosterone yg disekresi oleh testis. Sebagian besar testosterone berikatan longgar dgn protein plasma yang terdapat dalam darah dan sebagian terikat pada jaringan yg dibuahi dalam sel menjadi dehidrasi testosterone. Testosteron yg tidak terikat pada jaringan dgn cepat diubah oleh hati menjadi aldosteron dan dehidroepialdosteron. Konjugasi ini disekresi dalam usus melalui empedu kedalam urin. Fungsi Testosteron adalah sbb :
  1. Efek desensus ( penempatan ) testis. Hal ini menunjukkan bahwa testosterone merupakan hal yg penting untuk perkembangan seks pria selama kehidupan manusia dan merupakan factor keturunan.
  2. Perkembangan seks primer dan sekunder. Sekresi testosterone setelah pubertas menyebabkan penis,testis, dan skrotum membesar sampai usia 20 tahun serta mempengaruhi pertumbuhan sifat seksual sekunder pria mulai pada masa pubertas.
Fisiologi Reproduksi Pria

Hormon Gonadotropin   

Kelenjar hipofisis anterior menghasilkan dua macam hormone yaitu Lutein Hormone ( LH ) dan Folikel Stimulating Hormon (FSH).
Bila testis dirangsang oleh LH dari kelenjar hipofisis,maka sekresi testosterone selama kehidupan fetus penting untuk peningkatan pembentukan seks pria.
Perubahan spermatogenesis menjadi spermatosit dalam tubulus seminiferus dirangsang oleh FSH. Namun FSH tidak dapat menyelesaikan pembentukan spermatozoa.  Oleh karena itu,testosterone disekresi secara serentak oleh sel interstisial yg berdifusi menuju tubulus seminiferus. Testosteron diperlukan untuk proses pematangan akhir spermatozoa.

Hormon Estrogen

Dibentuk dari testosterone dan dirangsang oleh hormone perangsang folikel. Hormone ini memungkinkan spermatogenesis untuk menyekresi protein pengikat endogen untuk mengikat testosterone dan estrogen serta membawa keduanya kedalam cairan lumen tubulus seminiferus untuk pematangan sperma.
  

Hormon Pertumbuhan

Diperlukan untuk mengatur latar belakang fungsi metabolism testis secara khusus dan untuk meningkatkan pembelahan awal spermatogenesis sendiri. Bila tiadak terdapat hormone pertumbuhan, maka spermatogenesis sangat berkurang atau tidak ada sama sekali.

Fisiologi Sperma

Mortilitas dan fertilitas sperma terjadi karena gerakan flagella melalui medium cairan. Sperma normal cenderung untuk bergerak lurus daripada berputar. Aktivitas ini ditingkatkan dalam medium netral dan sedikit basa. Pada medium yg sangat asam dapat mematikan sperma dengan cepat. Aktivitas sperma dapat meningkat bersamaan dengan peningkatan suhu dan kecepatan metabolism. Sperma pada traktus genitalia wanita hanya dapat hidup 1-2 hari.

Fungsi Vesikula Seminalis

Epitel sekretorikmenyekresi bahan mucus yg mengandung fruktosa, asam sitrat, prostaglandin, dan fibrinogen. Setelah itu vas deferens mengeluarkan sperma dan menambah semen yg diejakulasi, fruktosa, dan gizi-gizi lainnya yg dibutuhkan oleh sperma untuk membuahi ovum. Prostaglandin  membutuhkan proses pembuahan yg bereaksi dengan mucus serviks dan membuat lebih reseptif ( menerima ) terhadap gerakan sperma untuk menggerakkan sperma sampai mencapai ke ujung atas tuba falopii dalam waktu 5 menit.

Semen

Cairan semen berasal dari vas deferens dan merupakan cairan yang terakhir diejakulasi. Semen berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus ejakulatorius dan uretra. Cairan dari vesikula seminalis membuat semen lebih kental. Enzim pembeku dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen dari cairan vesikula seminalis membentuk kuagulum yg lemah. Walaupun sperma dapat hidup  beberapa minggu dalam duktus genitalia pria setelah sperma diejakulasi ke dalam semen, akan tetapi jangka hidup sperma maksimal 24-48 jam.

Spermatogenesis

Tubulus seminiferus mengandung banyak sel epitel germinativum yg berukuran kecil dinamakan spermatogenia,menjadi spermatosit, dan membelah diri membentuk 2 spermatosit yg masing-masing mengandung 23 kromosomsetelah beberapa minggu menjadi spermatozoa. Spermatid pertama kali dibentuk masih mempunyai sifat umum sel epiteloid kemudian sitoplasma menghilang lalu spermatid memanjang menjadi spermatozoa yg terdiri atas kepala, leher, badan, dan ekor.
Setelah pembentukan tubulus seminiferus, sperma masuk ke seminiferus selama 18 jam-10 hari hingga mengalami proses pematangan. Epididimis menyekresi cairan yg mengandung hormone,enzim, dan gizi yg sangat penting dalam proses pematangan sperma. Sebagian besar terdapat pada vas deferens dan sebagian kecil di dalam epididimis.

Pematangan Sperma

Setelah terbentuk dalam tubulus seminiferus, sperma membutuhkan waktu beberapa hari untuk melewati epididimis. Sperma bergerak dari tubulus seminiferus kebagian awal epididimis selama 18-24 jam. Sperma memiliki kemampuan motilitas setelah proses ejakulasi menyekresi cairan yg mengandung hormone testosterone dan estrogen, enzim-enzim, serta nutrisi khusus untuk pematangan sperma.

Penyimpanan Sperma

Kedua testis dapat membentuk sperma  120 juta setiap hari. Sejumlah kecil sperma dapat disimpan dalam epididimis, sedangkan sebagian besar sisanya disimpan dalam vas deferens dan ampula vas deferens sehingga dapat mempertahankan fertilitasnya dalam duktus genitalis selama 1 bulan. Dengan aktivitas seksualitas yg tinggi, penyimpanan hanya beberapa hari saja.

Fungsi Kelenjar Prostat

Kelenjar prostat menghasilkan cairan yg encer yg mengandung ion sitrat, ion phospat, enzim pembeku, dan profibrinosilin. Selama pengisian kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer dapat dikeluarkan untuk menambah lebih banyak  jumlah semen. Sifat yg sedikit basa dari cairan prostat memungkinkan untuk keberhasilan fertilisasi (gumpalan ) ovum karena cairan vas deferens sedikit asam. Cairan prostat menetralisir sifat asam dari cairan lain setelah ejakulasi.

Kegiatan Seksual Pria

Rangsangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menyebar melalui saraf pudendus melalui pleksus sakralis dari medulla spinalis untuk membantu rangsangan aksi seksual dalam mengirim sinyal ke medulla dan berfungsi untuk meningkatkan sensasi seksual yg berasal dari struktur internal. Dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan secret yg menyebabkan keinginan seksual dengan merangsang kandung kemih dan mukosa uretra.
  • Unsur psikis rangsangan seksual: sesuai dengan meningkatnya kemampuan seseorang untuk melakukan kegiatan seksual dengan memikirkan/khayalan akan menyebabkan terjadinya aksi seksual sehingga menimbulkan ejakulasi atau pengeluaran sepanjang mimpi/khayalan,terutama usia remaja. 
  • Aksi seksual pada medulla spinalis: fungsi otak tidak terlalu penting karena rangsangan genital yg menyebabkan ejakulasi dihasilkan dari mekanisme reflex yg sudah terintegrasi pada medulla spinalis lumbalis. Mekanisme ini dapat dirangsang secara psikis dan seksual yg nyata ataupun kombinasi keduanya.

Pengaturan Fungsi Reproduksi
Pengaturan fungsi reproduksi dimulai dari pelepasan hormone gonadotropin (GnRH ) oleh hipotalamus lalu merangsang kelenjar hipofisis anterior untuk menyekresi lutein hormone,hormone perangsang lutein hormone ( LH ), dan folikel stimulating hormone ( FSH ). Lutein hormone merupakan rangsangan utama untuk sekresi testosterone oleh testis dan folikel stimulating. Hormon yg disekresi akan merangsang spermatogenesis
.
Pengaruh GnRH meningkatkan sekresi LH dan FSH
Hipotalamus melepaskan GnTH  yg diangkut ke kelenjar hipotalamus anterior untuk merangsang pelepasan LH dan FSH dalam darah porta. Perangsangan hormone ini ditentukan oleh frekwensi dari siklus sekresi dan jumlah GnRH yg dilepas pada setiap siklus. Sekresi LH mengikuti pelepasan GnRH lalu sekresi FSH berubah lebih lambat sebagai respon perubahan jangka panjang GnRH.
LH dan FSH adalah glikoprotein yg berkaitan dgn protein dalam molekul yg sangat bervariasi. Dalam keadaan yg berbeda dapat mengubah kemampuan aktivitas dasar LH dan FSH hingga mengeluarkan pengaruhnya pada jaringan di dalam testis melalui aktivitas pengaktifan system enzim khusus dalam sel-sel target berikutnya.

Pengaturan Spermatogenesis
FSH melekat pada sel-sel dalam tubulus seminiferus. Pengikatan ini mengakibatkan sel tumbuh dan menyekresi berbagai unsure spermatogenik. Secara bersamaan testosterone berdifusi ke dalam tubulus dalam ruang interstisial yg mempunyai efek tropic terhadap spermatogenesis. Untuk membangkitkan spermatogenesis dibutuhkan FSH, sedangkan testosterone dibutuhkan agar dapat mempertahankan spermatogenesis untuk waktu yg lama.

Sekresi Metabolisme dan Sifat Kimia
Sekresi androgen dalam tubuh memiliki efek maskulinisasi termasuk testosterone. Aktivitas maskulinisasi dari semua hormone sangat sedikit yaitu kurang dari 5% seluruh aktivitas tubuh pria dewasa. Sifat kimia androgen adalah senyawa steroid untuk testosterone yg dapat dibentuk dari kolesterol lsg dari asetil koenzim A. 
Sebagian besar testosterone yg terikat ke jaringan diubah dalam sel-sel menjadi dehidrotestosteron dalam organ khusus spt kelenjar prostat pada pria dewasa dan dalam genitalia eksterna pada janin laki-laki. Pembentukan estrogen juga terjadi pada pria. Disamping itu, testosterone dan estrogen juga ditemukan dalam urine pria. Jumlah estrogen dalam cairan tubulus seminiferus cukup tinggi dan menjalankan perannya dalam spermatogenesis.

Fungsi Komponen Reproduksi Pria

Komponen Reproduksi
Fungsi
Testis


Epididimis dan Duktus Deferens






Vesikula seminalis









Kelenjar Prostat





Kelenjar Bulbo uretra
Menghasilkan sperma
Mengeluarkan testosterone

Berfungsi sebagai tempat keluar sperma dari testis.
Sebagai pematangan motilitas dan fertilitas sperma.
Memekatkan/mengentalkan dan menyimpan sperma.

Menghasilkan fruktosa untuk memberi makan sperma yg dikeluarkan.
Mengeluarkan prostaglandin yg merangsang motilitas saluran reproduksi pria dan wanita untuk membantu mengeluarkan sperma.
Menghasilkan sebagian cairan semen.
Menyediakan precursor ( proses biologis ) untuk pembekuan semen.

Mengeluarkan cairan basa yg menetralkan sekresi vagina yg asam.
Memicu pembekuan semen, untuk menjaga sperma tetap berada dalam vagina pada saat penis dikeluarkan.

Mengeluarkan mucus untuk pelumasan.

Fisiologi Alat Reproduksi Pria Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Abdi Basariyadi

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.