Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Monday, March 23, 2015

Sastra (Prosa)

A. Pengetian Sastra 

Secara etimologis atau asal usulnya, istilah kesastraan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu susastra. Su berarti bagus, atau indah. Sastra berarti tulisan yang yang bagus atau tulisan yang indah.

B. Prosa

Karya sastra meliputi prosa, puisi, dan drama. Lebih menekankan pada gerak mimik muka, dan olah vokal. Berbeda dengan prosa yang mengajak pembaca untuk menikmati kisah yang terjadi seperti kejadian sehari-hari.

1. Jenis Prosa

Prosa Lama
Prosa lama menekankan ide cerita dengan istana sentries sehingga bersifat statis. Bentuk-bentuknya antara lain:

> Hikayat. Menceritakan seorang tokoh yang mengisahkan pengalaman hidup. Misalnya, Hikayat Abdullah, Hikayat Hangtuah.
> Cerita Berbingkai
Cerita ini memuat beberapa cerita yang menggunakan alur mundur (flash back). Alur mundur ini digunakan untuk merangkai dan meragakan kejadian-kejadian hingga saat cerita terjadi.
> Dongeng. 
Fabel: cerita hewan yang berprilaku manusia. Contoh: Si Kancil.
Mite/Mitos: kepercayaan, sakral, dewa-dewi. Contoh: Dewa Sri.
Sage: kepahlawanan seseorang. Contoh: Si Pitung.
Tambo: silsilah raja
Pelipur lara: cerita tokoh yang lucu dan konyol. Contoh: SI Kabayen, Lebai Malang.
Legenda: asal usul tempat, nama, kejadian. Contoh: Legenda Gunung Merapi.

Sastra (Prosa)


Prosa Baru
Prosa baru menekankan ide cerita yang bertema masyarakat sentries sehingga bersifat dinamis. Bentuk prosa baru terbagi dua, yaitu fiksi dan nonfiksi.

a. Fiksi
Fiksi berisi imajinasi penulis seperti kehidupan sehari-hari. Bentuknya antara lain:
Roman: kisah seorang tokoh diawali dari kelahirannya hingga akhir hayatnya. Contoh: Roman Layar Terkembang, Roman Siti Nurbaya.
Novel: bentuk ini menceritakan tokoh yang mengalami kejadian luar biasa sehingga mengubah karakter dan hidup tokoh.
Cerita pendek (Cerpen): cerita ini berkisar pendek yang mudah dipahami dan sekali baca. Ide-ide yang berkisar masalah kehidupan sehari-hari.

b. Nonfiksi
Prosa berbentuk ini mengutamakan tidak imajinatif, tetapi hal-hal yang fakta. Bentuk prosa baru yang nonfiksi ini antara lain:
Anatologi; merupakan kumpulan karya sastra yang dibukukan.
Essai; tulisan yang menilai hal-hal yang aktual dalam masyarakat.
Ikhtisar; ikhtisar hampir sama dalam bentuk resume, ringkasan, dan rangkuman.
Bunga Rampai; pilihan-pilihan tulisan (karya) yang diseleksi dan dibukukan.

2. Unsur-Unsur Intrinsik Prosa

Dalam cerita rakyat terdapat unsur-unsur karya sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik.
a. Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik menjadi pendukung dalam cerita. Hal ini berkaitan dengan segala hal yang menyangkut cerita. Unsur intrinsik sebuah prosa meliputi enam unsur yang diuraikan sebagai berikut:

1.Tema
Merupakan ide pokok gagasan cerita yang dapat dikembangkan menjadi cerita yang utuh. Tema menjadi pokok utama cerita. Hal pokok ini menyangkut hal-hal umum yang menarik. Misalnya, karya Putu Wijaya dengan "Pabrik" yang mengambil tema sosial masyarakat bawah.

2. Penokohan 
Penokohan menguraikan karakter, sikap, emosi, pikiran, pandangan tokoh-tokoh dalam cerita. Penokohan ini juga membangun tokoh dalam cerita. Deskripsi penokohan tokoh-tokoh cerita dapat diuraikan penulis (pengarang) dengan cara: (1) menggambarkan fisik tubuh tokoh dan keadaan jiwa, (2) dialog dengan tokoh lain, (3) tanggapan dari tokoh lain, (4) tanggapan tokoh terhadap yang terjadi dalam cerita.

3. Sudut Pandang (point of view)
Sudut pandang merupakan cara pengarang menempatkan diri dalam suatu cerita. Penulis cerita dalam menuturkan ceritanya dalam empat posisi, antara lain:
a. Pengarang sebagai pencipta segala, serba tahu, berkuasa, dan bebas keluar masuk jiwa tokoh mana pun. Dengan posisi ini, pengarang berada di luar cerita (tidak ikut berperan) dan menggunakan gaya penceritaan "Dia"
b. Pengarang sebagai peninjauan, pengarang berada di luar cerita dan hanya dapat mengungkapkan hal-hal yang terlihat dan terdengar.
c. Pengarang sebagai pemeran utama, yaitu sebagai tokoh utama. Pengarang menceritakan cerita dengan tokoh "Aku" yang menjadi pusat cerita.
d. Pengarang sebagai pemeran pemabntu. Tokoh ini tidak menjadi pusat penceritaan tetapi biasanya dekat dengan tokoh "dia".

4. Lattar (setting)
Lattar merupakan tempat, keadaan, situasi, kondisi, waktu terjadinya peristiwa-peristiwa dalam cerita. Biasanya lattar diuraikan penulis cerita denga detail seakan-akan pembaca dapat melihat dan mengalami kondisi cerita.

5. Alur (plot)
Alur merupakan rangkaian peristiwa yang diurutkan untuk membangun cerita. Alur ini pun dapat berkembang menuju ke masa depan berbentuklah alur maju. Jika rangkaian cerita mengulas balik maka beralur mundur dan dapat digabungkan keduanya dalam cerita.

6. Gaya Bahasa
Gaya bahasa merupakan pengungkapan pribadi pengarang dalam berbahasa secara khas. Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berhubungan dengan kebangsaan (kesukuan), angkatan zaman, aliran, profesi, dan sebagainya.

b. Unsur-Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik dalam karya sastra mendukung unsur instrinsik. Unsur instrinsik menjadi pendukung mengenai kepengarangan. Unsur Ekstrinsik ini meliputi:

1. Biografi pengarang
Hal-hal yang berkaitan dengan pengarang misalnya: hasil karya-karya, penghargaan, identitas diri, dan hal-hal yang khusus mengenai kepengarangan.

2. Tahun terbit
Tahun terbit dalam unsur ekstrinsik ini merupakan identitas buku yang meliputi nama pengarang, jumlah halaman, editor, desain cover dan komentar-komentar pembaca yang dituliskan.

3. Sikap masyarakat
Karya sastra yang hadir untuk menyikapi keadaan masyrakat. Hal ini diunngkapkan dengan adat istiadat, penekanan nilai dan norma yang yang berlaku dalam masyrakat.


Demikianlah penjelasan tentang Sastra (Prosa). Semoga bermanfaat!

Referensi:
Eti, Nunung Yuli dkk. 2006. Bahasa Indonesia Seri Tematik. Klaten: PT Intan Pariwara

Sumber gambar:
Pixabay: Sastra

Sastra (Prosa) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Abdi Basariyadi

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.