Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Tuesday, April 7, 2015

Sistem Ekskresi (Pengeluaran) Pada Manusia

Di dalam tubuh kita berlangsung berbagai proses metabolisme, misalnya respirasi, sintesis protein, dan perombakkan zat-zat. Namun, selain menghasilkan bahan-bahan yang berguna bagi tubuh manusia, metabolisme juga menghasilkan zat-zat sisa yang jika tidak dikeluarkan dari tubuh dapat meracuni tubuh. Sistem ekskresi pada manusia guna mengeluarkan zat-zat sisa metabolisme.

1. Fungsi Sistem Ekskresi

Hasil pembakaran dan sisa metabolisme perlu dibuang keluar tubuh agar tidak meracuni tubuh. 
Zat sisa metabolisme yang dikeluarkan antara lain karbon dioksida (CO2), urea (H2O), amonia (NH3), kelebihan vitamin dan zat warna empedu. Pada dasarnya, karbon dioksidadan air tidak berbahaya bagi tubuh. Akan tetapi jika berlebihan, karbon dioksida dan air harus dikeluarkan agar tidak menganggu proses fisiologi di dalam tubuh.
Pengeluaran zat sisa metabolisme membutuhkan alat pengeluaran. Prinsip alat pengeluaran adalah menyaring zat sisa dari seluruh tubuh. Pada proses ini, zat-zat yang masih dibutuhkan diserap kembali, seperti asam amino, glukosa, air, dan ion-ion. Sedangkan zat-zat yang tidak diserap kembali akan dikeluarkan dari dalam tubuh.

Alat pengeluaran pada manusia berupa ginjal, kulit, paru-paru, dan hati. Ginjal adalah alat pengeluaran yang utama. Ginjal berfungsi mengeluarkan air, amino, dan zat-zat warna empedu. Hasil dari penyaringan di ginjal berupa urin. Kulit berperan untuk mengeluarkan air dan garam-garaman. Paru-paru berperan mengeluarkan karbon dioksida dan air (dalam bentuk uap). Hati berfungsi menghasilkan zat warna pada empedu yang merupakan hasil perombakkan sel darah.

2. Ginjal

Alat pengeluaran (ekskresi) utama pada tubuh manusia adalah ginjal. Ginjal atau buah pinggang manusia berbentuk seperti kacang merah, berwarna keunguan dan berjumlah dua buah. Ginjal terletak di sebelah kiri dan kanan tulang belakang. Bobot kedua ginjal orang dewasa antara 120-150 gram. Ginjal kanan terletak lebih rendah untuk memberi ruang pada hati.

a. Struktur ginjal

Pada potongan melintang, tampak tiga daerah yang berbeda, yaitu kulit ginjal (korteks), sumsum ginjal (medula), dan rongga ginjal (pelvis).
Pada bagian kulit ginjal (korteks) terdapat alat penyaring darah, yang disebut nefron. Diperkirakan dalam setiap ginjal terdapat satu juta nefron. Setiap nefron tersusun dari Badan Malpighi dan saluran panjang (tubulus atau tubula) yang bergelung. Badan malpighi tersusun dari  glomerulus dan simpai Bowman (kapsul Bowman). Glomerlurus berupa anyaman pembuluh kapiler darah. Sedangkan simpai Bowman berupa cawan berdinding tebal yang mengelilingi glomerlurus.

Sumber: aviva


Saluran panjang yang bergelung (tubulus) dikelilingi oleh pembuluh-pembuluh kapiler darah. Tubulus yang letaknya dekat badan Malpighi disebut tubulus proksimal. Tubulus yang jauh dari badan Malpighi disebut tubulus distal. Tubulus proksimal dan tubulus distal dihubungkan oleh lengkung Henle atau angsa Henle. Lengkung henle ini berupa pembuluh menyerupai leher angsa yang turun ke arah medula ginjal, kemudian naik kembali menuju korteks ginjal. Bagian akhir dari tubulus ginjal adalah saluran (tubulus) pengumpul yang terletak pada sumsum ginjal.

2. Cara kerja ginjal

Ginjal berperan untuk menyaring darah. Bagaimana sebenarnya proses penyaringan darah tersebut berlangsung?
Darah yang akan disaring dialirkan ke dalam ginjal melalui arteri ginjal (arteri renalis). Penyaring darah pertama kali terjadi di badan Malpighi. Plasma darah dan zat yang terlarut di dalamnya disaring oleh glomerulus di dalam badan Malpighi. Setelah disaring oleh badan Malpighi, darah keluar dari ginjal melalui vena ginjal (vena renalis). Hasil saringan (filtrat) berupa filtrat glomerulus selanjutnya masuk ke dalam simpai Bowman. Kemudian filtrat glomerulus tersebut mengalir ke tubulus menuju ke bagian rongga ginjal. Dari sini terbentuk urin yang mengalir ke kantong kemih melalui ureter.
Pada saat filtrat glomelurus berada di dalam tubulus, terjadi proses penyerapan kembali (reabsorpso) zat yang masih berguna dan menghasilkan urin. Zat yang diserap kembali adalah garam (NaCI), air, glukosa, dan asam amino. Zat-zat tersebut masuk kembali ke dalam pembuluh darah yang terdapat di sekitar tubulus. Selain itu terjadi penambahan zat-zat yang tidak berguna dari pembuluh darah di sekitar tubulus. Zat-zat tersebut antara lain ion hidrogen (H+), racun (misalnya amonia), dan obat-obatan (misalnya prisilin). Kandungan urea yang berada dalam tubulus pengumpil lebih tinggi dari pada filtrat glomerulus. Urin akan mengalir ke dalam rongga ginjal, selanjutnya menuju ke kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh, maka dinding kantong kemih akan tertekan. Oleh karena itu, dinding otot pada pangkal kantong kemih meregang sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Selanjutnya urin akan keluar melaluui saluran kencing (uretra).

3. Kandungan urin

Urin yang normal mengandung bahan-bahan:
a. Air, urea, dan amonia yang merupakan sisa-sisa pembongkaran protein.
b. Garam-garam meniral, terutama garam dapur (NaCI)
c. Zat warna empedu yang memberi warna kuning pada urin.
d. Zat-zat yang berlebihan dalam darah, seperti vitamin B, vitamin C, obat-obatan dan hormon.

Urin yang normal tidak mengandung protein dan glukosa. Jika urin mengandung protein, berarti telah terjadi kerusakan atau gangguan ginjal.

Faktor-Faktor yann Mempengaruhi Produksi Urin

Urin yang dikeluarkan oleh ginjal sebenarnya sangat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar dari individu yang bersangkutan. Faktor-faktor tersebut antara lain hormon antidiuretik, hormon insulin, jumlah air yang diminum, dan faktor cuaca.

3. Kulit

Kulit merupakan lapisan tipis yang menutupi dan melindungi seluruh permukaan tubuh. Selain berfungsi melindungi permukaan tubuh, kulit juga berfungsi sebagai alat ekskresi (pengeluaran). Zat sisa yang yang dikeluarkan melalui kulit adalah air dan garam-garaman.
Kulit terdiri dari tiga lapisan, yaitu lapisan kulit ari (epidermis), lapisan kulit jangat (dermis) dan lapisan jaringan ikat bawah kulit.

Sumber: deadsea

Fungsi Kulit

Selain berfungsi alat ekskresi (pengeluaran), kulit juga berfungsi sebagai berikut:
  • Sebagai pelindung tubuh dari kerusakan akibat benturan (kerusakan mekanis) maupun kerusakan yang disebabkan oleh zat kimia.
  • Sebagai tempat indra peraba, karena pada kulit terdapat ujung saraf indra yang dapat merasakan halus, kasar, panas, dingin, dan nyeri.
  • Tempat pembuatan vitamin D dari provitamin D dengan sinar ultraviolet.
  • Sebagai pengatur suhu tubuh.

4. Paru-Paru

Bentuk dan mekanisme kerja paru-paru telah kalian pelajari pada sistem pernapasan. Kini kita pelajari fungsi paru-paru sebagai sisem ekskresi (pengeluaran). Zat apakah yang di keluarkan paru-paru?
Paru-paru berfungsi mengeluarkan karbon dioksida dan uap air.

5. Hati

Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. Pada orang dewasa berat hati mencapai 2 kg.
Hati merupakan tempat untuk mengubah berbagai zat, termasuk zat racun. Misalnya hati menerima kelebihan asam amino yang akan diubah menjadi urea yang bersifat racun. Hati juga menjadi tempat perombakkan sel darah merah yang rusak menjadi empedu. 
Zat sisa tidak langsung di keluarkan oleh ahti, tetapi dikeluarkan melalui alat ekskresi (pengeluaran) lainnya. Misalnya, urea dan zat warna empedu akan dibawa oleh darah ke ginjal dan dikeluarkan bersama di dalam urin.

a. Fungsi hati

Selain sebagai organ ekskresi (pengeluaran), hati juga mempunyai fungsi lain yang sangat penting bagi tubuh, yaitu sebagai berikut:
1. Sebagai tempat untuk menyimpan gula dalam bentuk glikogen.
2. Menetralkan racun yang masuk ke dalam tubuh.
3. Mengatur kadar gula dalam darah.
4. Sebagai tempat pembuatan fibrinogen dan protrombin yang berperan dalam proses pembekuan darah.
5. Sebagai tempat pengubahan provitamin A menjadi vitamin A.
6. Menghasilkan empedu yang berguna untuk mengemulsikan lemak.

b. Gangguan hati

Hati dapat terkena infeksi, misalnya penyakit hepatitis yang disebabkan oleh serangan virus. Virus ini dapat menular melalui makanan, minuman, jarum suntik, dan transfusi darah. Penderita hepatitis mengalami kerusakan pada sel hatinya, sehingga zat warna empedu beredar ke seluruh tubuh. Akibatnya, warna tubuh menjadi kekuningan.


Demikianlah penjelasan tentang Sistem Ekskresi (Pengeluaran) Pada Manusia. Semoga bermanfaat!

Referensi:
Istamar Syamsuri, Dkk. IPA Biologi SMP Kelas IX.

Sistem Ekskresi (Pengeluaran) Pada Manusia Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Abdi Basariyadi

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.