Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Wednesday, October 21, 2015

Jenis-Jenis Teater Tradisional

Berbicara masalah seni teater tradisi (daerah) di Tatar Sunda, kita akan berbicara mengenai masalah keragaman, keikhlasan/keunikan, dan perkembangan di masyarakat. Hampir di setiap daerah kabupaten terdapat seni teater yang memiliki keunikan masing-masing. Suatu jenis kesenian daerah dikelompokkan sebagai seni teater jika dalam teks pertunjukan terdapat unsur-unsur berikut.

  1. Naskah, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis
  2. Tempat pertunjukan atau pentas, baik arena ataupun proscenium
  3. Pemain (aktor dan aktris) atau para penari
  4. Property (perkakas pementasan)
Jenis-Jenis Teater Tradisional

Media untuk mengungkapkan sebuah gagasan, bisa berupa bahasa verbal (dialog atau monolog dengan kata-kata), bahasa visual (gerak, tarian dan rupa), dan bahasa audio (musik atau karawitan).

Bentuk-bentuk teater yang hidup dan berkembang di Nusantara dapat dibagi menjadi sebagai berikut.



1. Teater boneka


Yaitu pertunjukan teater yang tokoh-tokoh ceritanya berupa boneka yang dimainkan oleh seorang dalang. Bentuk boneka di antaranya Wayang Kulit, Wayang Goleng, dan Wayang Cepak. Wayang Kulit dan Wayang Golek biasanya membawakan cerita Ramayana dan Mahabrata, sedangkan Wayang Cepak biasanya membawakan cerita Babad. Jenis teater boneka termasuk teater total, maksudnya jenis teater ini menyertakan berbagai cabang seni, seperti tari, karawitan, sastra, rupa, dan seni.


2. Teater oncor


Yaitu suatu jenis teater daerah yang mempergunakan oncor sebagai penerangan dalam pertunjukannya. Pergelaran teater oncor biasanya dilakukan di sebuah arena (halaman rumah, balai, atau balandongan) dengan cara ngupuk (melantai/lesehan) dan penontonnya membentuk sebuah lingkaran atau tapal kuda. Nama-nama jenis teater oncor di antaranya Topeng Cirebon, Topeng Banjet, Topeng Ubrug, Topeng Cisalak, dan Longser.


3. Teater catur


Yaitu jenis teater yang mengutamakan catur (dialog) secara auditif atau visual dalam arti tidak memunculkan tokoh-tokoh cerita secara visual. Penyajiannya dilakukan dengan cara disiarkan melalui siaran radio atau melalui rekaman kaset. Watak, karakter, dan figur tokoh cerita biasanya ada dalam imajinasi para pendengar. Jenis teater ini banyak digemari oleh berbagai kalangan baik tua maupun muda. Jenis teater catur, di antaranya Pentun, Macapat, Wayang Catur, dan Dongeng. Tahun 1970-an seorang dalang yang bernama Djamar Media dari Cianjur, Jawa Barat beralih profesi menjadi pendongeng. Duriat Kabawa Paeh merupakan salah satu judul cerita yang sangat populer pada saat itu. Tahun 1980-an format tersebut diteruskan oleh Uwa Kepoh yang terkenal dengan dongeng-dongengnya. Nama lain yang muncul sebagai pendongeng, yaitu Abah Kabayan.


4. Teater madya

Yaitu bentuk gerapan teater yang hidup dan marak di daerah Sunda sekitar tahun 1950-1970-an. Contoh teater madya, di antaranya sandiwara atau masres (di Cirebon dan Indramayu), Tonil, dan Dul Muluk. Teater ini merupakan perpaduan antara teater tradisional Sunda dengan teater realisme Barat. Salah satu cirinya yaitu adanya dekorasi panggung serta setting panggung untuk kebutuhan adegan atau babak dalam cerita yang disajikan. Ciri lainnya pertunjukan teater madya sudah menggunakan ruangan tertutup serta panggung proscenium baik dibuat secara permanen maupun sementara

5. Teater modern

Yaitu sebuah bentuk teater yang berasal dari Barat. Bentuk teater ini disebut juga teater konvesional karean dilihat dari teknis penggarapannya teater modern menggunakan kaidah-kaidah dramaturgi. Ciri-cirinya, antara lain adanya sutradara yang sangat penting dan manajemen dalam proses penggarapan pementasan. Bentuk teater ini hidup di kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Para pemainnya berasal dari kalangan mahasiswa yang bergabung dalam sebuah kelompok baik profesional maupun amatir (di kampus).

6. Teatronik 

Merupakan sebuah istilah dari bentukan kata teater dan elektronik. Teatronik, yaitu bentuk teater yang cara penyajiannya tidak di panggung pertunjukan, tetapi di layar kaca (telivisi). Bentuk teater ini mulai disosialisasikan sekitar tahun 1990-an oleh beberapa orang dramawan yang ada di kota-kota besar pulau Jawa.

Demikianlah informasi mengenai Jenis-jenis Teater Tradisional. Semoga bermanfaat!


Referensi:
Yuliawan Kasmahidayat
Harry Sulastianto
Nanag Supriatna
Kiki Sukarta
Yudi Sukmayadi
Rika Riwayani

Materi Seni Budaya Kelas X

Jenis-Jenis Teater Tradisional Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Abdi Basariyadi

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.