Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Saturday, October 24, 2015

Klasifikasi dan Sejarah Perkembangan Tari Nusantara

Perkembangan tari kreasi daerah Nusantara berjalan seiring dengan sejarah Nusantara itu sendiri. Sejak berdirinya kerajaan-kerajaan sejarah perkembangan tari juga dimulai. Pada zaman kerajaan, tari diciptakan untuk melengkapi upacara sakral kerajaan. Setiap tarian mempunyai nilai filosofis yang tinggi sesuai dengan bentuk, model, dan kualitasnya. Pengklasifikasian tari kreasi daerah dapat ditelusuri berdasarkan sejarah, atau periodisasi perkembangannya, yaitu sebagai berikut.

a. Sejarah Perkembangan Tari Tradisi

Tari Topeng dicatat cikal bakal tari tradisi di Jawa. Tari Topeng diperkirakan mengalami puncak perkembangan pada zaman Kerajaan Majapahit berkuasa. Dalam Kitab Negarakartagama yang ditulis Empu Prapanca, dijelaskan adanya atraksi besar-besaran tari dan nyanyian untuk memeriahkan penutupan perayaan bulan Caitra di lapangan Bubat. Selain itu, dijelaskan juga adanya tokoh-tokoh punakawan (juru banyol) dan beberapa penari menggunakan tutup kepala (irah-irahan) yang disebut tekes. Penggunaan tekes dapat dijumpai sampai sekarang pada hampir semua Tari Tradisi Topeng, terutama untuk Tari Topeng dengan latar belakang cerita Panji.
Pada perkembangan selanjutnya, Tari Topeng Panji mempunyai arti khusus di kalangan Kasunanan Surakarta, Istana Surakarta. Tari Topeng Panji menjadi simbol kehidupan pemerintahan.
Di Yogyakarta berdiri Sekolah Tari Krida Beksa Birama pada 1918 yang didirikan oleh Pangeran Tedjo Kusumo dan Pangeran Suryadiningrat. Tari-tarian klasik Keraton Yogyakarta diajarkan di luar kerajaan sebagai bagian dari pendidikan untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Kreator terkemuka Indonesia yang berasal dari sekolah ini di antaranya Wisnoe Wardhana dan Bagong Kussudiarjo.

Seni Tari Topeng

Pada tahun 1961 muncul genre seni pertunjukan tari Jawa baru yang disebut Sendratari atau Sendratari Ballet Ramayana. Istilah ini diciptakan oleh G.P.H. Jatikusumo. Dari panggung Sendratari Ballet Ramayana Prambanan ini muncul seniman-seniman dan ahli tari terkemuka Indonesia, di antaranya Sardono W. Kusumo, Sal Mugiyanto, dan Retno Maruti.
Di Bali sekitar 1930-an, I Mario menciptakan gaya kebyar dalam karawitan dan Tari Bali. Gaya ini selanjutnya mengilhami terciptanya tari-tari kreasi Bali dalam gaya kekebyaran.
Terdapat dua seniman legendaris di Priangan (Jawa Barat) yang mengembangkan Tari Kupu-Kupu dan Tari Merak yang manis, dan mempesona, yaitu Martakusuma dan Raden Tjetje Soemantri. Pada perkembangan tari selanjutnya, Tari Kupu-Kupu dan Tari Merak ini mengilhami terciptanya Tari Merak gaya Bagong Kussudiardjo (Yogyakarta) dan S. Maridi (Surakarta). Pada 1975-1980, Gugum Gumbira berhasil menciptakan Tari Ketuk Tilu menjadi Tari Jaipongan.
Tokoh lain yang berhasil menciptakan tari kreasi, di antaranya Suprapto Suryodarmono dan Sardono W. Kusumo yang menggunakan spirit (roh) lokal dalam praktik-praktik tari yang kreatif dan eksperimental. Di Yogyakarta muncul Ben Suharto (alm) yang terkenal dengan konsep Mandalanya. Adapun di Solo, Gendhon Humardani melakukan perubahan besar-besaran terhadap repetoar-repetoar seni tradisi. khususnya seni tari. Misalnya, pemadatan koreografi Tari Gambyong, Adaniggar, Kelaswara, Bedhaya, Srimpi, dan Srikandi Anoman.



b. Sejarah Perkembangan Tari Kreasi Baru

Pembaruan tari di Indonesia diawali oleh I Mario (Bali) sekitar 1930-an dengan gaya kebyar. Adapun di Jawa pembaruan dipelopori oleh Bagong Kussudiardjo dan Wisnoe Wardhana pada 1950-1958. Selain itu, terdapat juga seniman pembaru lainnya, seperti Sal Murgiyanto, I Wayan Dibya, Gusmiati Suid, Endo Suanda, dan Sardono W. Kusumo.
Awalnya pembaruan dilakukan pada aspek tema yang mengambil gerak dasar dari tari tradisi. Namun, pada perkembangan selanjutnya tema diambil dari kejadian nyata yang tengah berkembang di masyarakatm seperti konflik-konflik sosial, politik, korupsi, kekerasan, penindasan, kekuasaan, dan kebiadaban.

c. Sejarah dan Perkembangan Tari Kontemporer

Sejarah perkembangan tari kontemporer / tari modern dimulai menjelang dasawarsa akhir 70-an. Tari kontemporer diperkenalkan oleh individu dan perguruan tinggi seni terkenal di Indonesia, seperti STSI Surakarta dan ASTI Yogyakarta. Selain itu, terdapat event-event atau acara yang mendukung perkembangan tari kontemporer, di antaranya Festival Kesenian Rakyat Tingkat Nasional di Jakarta, Parade Tari Daerah di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, dll.

Demikian penjelasan tentang Klasifikasi dan Sejarah Perkembangan Tari Nusantara. Semoga bermanfaat!


Referensi:
Yuliawan Kasmahidayat
Harry Sulastianto
Nanag Supriatna
Kiki Sukarta
Yudi Sukmayadi
Rika Riwayani

Materi Seni Budaya Kelas X

Klasifikasi dan Sejarah Perkembangan Tari Nusantara Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Abdi Basariyadi

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.