close

Medrec07.com adalah sebuah website tentang pendidikan dimana semua pelajaran dari SD, SMP, SMA maupun Perguruan Tinggi Lainnya.

Saturday, January 28, 2017

Cara Mudah Mengajari Balita Berbicara, Berhitung, Menulis Dll

"Sudah saya kasih tahu bolak-balik, tapi kok nggak ngerti-ngerti juga ...!"
Itu khas keluhan para orangtua yang berada di puncak kesabarannya ket...ika melihat balitanya tidak juga paham apa yang diinginkan orangtua.

Reaksinya?
- Ada yang geleng-geleng kepala.
- Ada yang berusaha menenangkan diri dengan tarik nafas dan menghembuskan perlahan, sambil istighfar atau bilang "Sabar ... sabar ..."
- Ada yang meninggikan suaranya dengan mata mendelik.
- Tak jarang pula akhirnya yang "turun tangan", maksudnya menggunakan pukulan atau cubitan. Alasan klasiknya, supaya anak mengerti, meskipun boleh jadi sebetulnya lebih disebabkan kehilangan akal, sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
- Dll, boleh ditambahkan sesuai pengalaman sendiri.
Eh, saya bukan ngomongin orang lain. Saya juga pernah mengalami masa-masa itu karena anak saya juga pernah kecil.

Pernahkah kita melihat balita kita "bengong" ketika kita menegur dengan keras? Apa yang terjadi? Apakah karena dia belum paham mengapa kita marah? Atau ia sengaja melakukannya agar kita marah?

Gini deh, saya mencoba mengajak kita untuk bisa berempati pada anak-anak kita, terutama yang balita. Meskipun ini juga bisa terjadi pada anak-anak yang usianya lebih besar.

Bayangkan kita berada di satu tempat yang kita tidak tahu dan tidak mengerti bahasa yang digunakan. Ambil contoh, saya pergi ke Thailand. Saya tidak bisa bahasa Thai dan tidak paham tulisan Thai. Pokoknya gak ngerti sama sekali. Orang mengobrol dengan bahasa Thai lalu tertawa-tawa. Kalau saya ikut tertawa, bukan karena saya tahu itu lucu, tapi karena saya mengira itu lebih sopan dan saya bisa lebih diterima. Padahal jangan-jangan mereka sedang menertawakan saya.

Saya melihat tulisan Thai, pun saya tidak paham. Semua saya anggap coretan tak berarti. Padahal jangan-jangan di situ ada larangan atau peringatan tertentu. Karena saya tidak paham saya abaikan, dan saya juga tidak paham ketika tiba-tiba ada orang marah, berteriak pada saya, dan kemudian memukul saya. Reaksi saya, pukul balik, marah, menangis, atau bingung sambil bengong (familiar ya dengan saat anak bengong ketika kita marahi).

Dalam kondisi seperti itu, biasanya kita berkomunikasi dengan "bahasa Tarzan", menaruh telunjuk di bibir artinya jangan ribut. Melambaikan tangan, artinya memanggil orang. Bagaimanapun bahasa Tarzan, berpeluang besar disalah-artikan. Sehingga kadang baik si pemberi pesan maupun penerima pesan menjadi frustrasi.

Naaaaahhhh .... mudah-mudahan sekarang sudah mulai terbayang dan terasa apa yang dirasakan balita kita, sehingga kita bisa lebih berempati. Betapa beratnya tugas makhluk kecil yang lahir ke bumi ini. Dituntut segera paham bahasa lisan, padahal bahkan bahasa Tarzan pun belum dia pahami.
Jadi bagaimana bayi dan balita belajar hingga akhirnya paham?

Bayi dan balita kita, belajar dengan trial error/coba-coba dan membuat asosiasi (hubungan). Teman-teman yang pernah belajar teori Classical Conditioning Pavlov dan Operant Conditioning Skinner akan tahu, bahwa semuanya berawal dari kebetulan (tindakan tak bertujuan), yang akhirnya menjadi bertujuan setelah ada asosiasi antara stimulus-respon dan konsekuensi. Dan dari mulai tidak bertujuan sampai bertujuan, dibutuhkan pengulangan berkali-kali. Adanya konsistensi respon dan konsekuen, akan membuat proses asosiasi menjadi lebih cepat. Aish ... teknis sekali ya bahasanya.
Saya coba buat lebih sederhana.

Jadi, bayi lahir dengan tidak paham apa pun. Gerakannya semua adalah refleks dan tak bertujuan. Ketika pengasuhnya memberikan respon, awalnya semua masih tak berarti. Sampai ketika dilakukan berulang-ulang maka bayi menemukan hubungannya.
- Oh kalau saya menangis, ada orang yang datang
- Oh kalau saya diam, ada orang yang menatap saya dan dia menggerakkan mulutnya dan bersuara. Saya mendengar, tapi tak tahu artinya.
- Oh kalau saya menjatuhkan barang, ada suara orang berteriak.
Dlsb.
Sampai satu tahun anak masih ribet dengan mengasosiasikan beragam stimulus. Lebih ribet lagi kalau ternyata orang dewasa di sekitarnya tidak konsisten. Dan luar biasa ribet kalau pengasuhnya ada banyak serta berganti-ganti.
- Pas nangis, eh kadang datang kadang tidak
- Pas diam, kadang ada yang ngajak bicara kadang tidak
- Pas menjatuhkan barang, kadang orang teriak, kadang ada yang memukul dan kadang didiamkan saja.

Nah, bertambah umurnya, bayi bukan hanya punya tugas menghubungkan respon dengan stimulus gerak dan ekspresi, tapi juga dengan bahasa.

Usia balita, ada lebih banyak kata benda dan kata kerja yang sudah dipahami, bahkan mungkin beberapa kata sifat. Tapi karena otak balita yang masih berkembang, maka semua itu masih bersifat label/nama, belum berupa hubungan/asosiasi apalagi berupa proses.
- Hubungan/asosiasi itu yang harus diindra (dilihat, didengar, dirasakan, dilakukan).
Misal, kalau saya menangis maka ada orang yang datang.
- Berulang-berulang diperlihatkan/dicontohkan
Misal, Ada orang datang kalau saya menangis.
- Dicoba sendiri (trial error)
Misal, Coba menangis .... tunggu .... ada yang datang tidak?
- Baru ditemukan hubungannya.
Misal, Betul, ternyata setiap saya menangis maka ada yang datang.

Apa faktor yang membuat anak bisa segera menemukan asosiasi stimulus-respon?
1. Kecerdasan
Ada anak yang lebih cepat dan ada yang membutuhkan waktu lebih lama untuk 'Memahami'.
2. Anak tidak merasa terancam sehingga merasa cemas, takut, marah, dll. Karena ketika otak emosi bekerja sangat keras, maka otak berpikir menjadi sulit bekerja.
3. Frekuensi dan intensitas respon yang diterima dari lingkungan
Semakin sering dilakukan peluang anak menemukan asosiasi lebih besar.
4. Konsistensi respon
Semakin konsisten, semakin mudah anak menemukan asosiasi.
Poin 1 (satu), sudah tidak bisa diapa-apakan, tinggal kita accept/terima.
Poin 2-4 adalah poin-poin yang menuntut kesabaran, ketekunan dan keikhlasan orangtua.

Jadi, mengapa anak kita belum mengerti meskipun dikasih tahu berkali-kali? Salah satu jawabannya adalah karena dia belum menemukan hubungan antara Stimulus-Respon-Konsekuensi.
Dan tugas kita adalah "memastikan" mereka paham dengan pengulangan, konsistensi dan suasana belajar yang kondusif (tidak mengancam). Dengan pendekatan konkrit (sensori dan perilaku). Berbicara, nasihat, teguran dll, tetap dilakukan untuk menguatkan, bukan sebagai cara pertama dan satu-satunya.

*Sekali lagi bukti, pentingnya kesabaran mengulang-ulang. Kita tidak pernah tahu kapan, di mana dan bagaimana anak kita tiba-tiba MENGERTI ....

Yeti Widiati 15-270117
sumber: https://www.facebook.com/yetiws/posts/10209403699061866

Cara Mudah Mengajari Balita Berbicara, Berhitung, Menulis Dll Rating: 4.5 Diposkan Oleh: xapiqul

0 komentar:

Post a Comment

Budayakan lah berterima kasih, Harap tinggalkan komentar yang relevan.